sahabat adalah insan yang membuatmu lebih berarti

Sang "Penyair Gelap"

Hari Ini dan Esok
Hari ini aku dalam tanyamu
menjadi jawab
meski garis finis tak lagi genap separuh langkah
tarungku tak berkalung medali
aku mengevalusai durasi
dalam bingkai masa yang pasti
ternyata banyak mimpi hanya bisik- berisik belaka
karena bangkit yang tertunda mencipta petaka
 
Hari ini kau dalam tanyaku
menjadi jawab
mungkin kita sama
masih belum pasti warna darah di urat nadi
tak berwarna seperti mereka yang tunduk pada titah
biru seperti mereka yang angkuh duduki tahta
atau merah membara, mendidih
seperti mereka yanga melawan titah para pemegang tahta
di negeri yang harus segera berbenah


Sungguh, kita adalah jawaban dalam tanya tentang persada
yang masih menagih bhakti dalam luka-luka zaman dari tiap rezim
tahun-tahun hanya babak baru dalam arena yang tetap sama
perubahan adalah taktik dan tujuan
maka senja ini, mari kita purnakan dengan refleksi dan proyeksi
sebab esok bersama fajar baru
semua akan kembali kita mulai, beraksi dan bersaksi
Karena sebenarnya darah Kita MERAH...........

Kau telah jadi sejarah

Malam ini...
masih seperti malam yang kemarin
di pupil matamu adaku tetap tak berbentuk
ingin sekali aku pertanyakan
tapi hening terlalu setia menjadi jawaban
aku merindumu...

dalam setiap dekapan
aku merasa tak sedang memelukmu
jiwamu,
entah sedang bersembunyi di lubuk yang mana
di hatiku ada gerimis
sementara hujan di luar sana tak mau reda
mungkin saja rinainya hendak meredam debar jantungmu
yang detaknya jelas bukan untukku

damba tak berbalas
meski hati telah cukup memelas

esok, semuanya akan bebeda
habis sudah kesanggupanku menghamba

malam ini, di dekat pagi
aku menyerah menimang harap
malam ini beberapa detik lagi
akan kuhentikan segala ratap

Karena akhirnya sebelum mentari terbit
kau telah jadi sejarah....

Asmara Tua yang Mengarat

Tahan!
Biarkan menggenang di mata sipitmu saja
jangan teteskan...
atau cerita ini tak akan pernah tamat

kau bukan penulis skenario
aku bukan seorang sutradara
pada episode yang tak pernah terencanal
akon kita hanyalah kebetulan

kebetulan kau meniang di usang kisahmu yang lalu
kebetulan juga aku melumut di tembok kisahku dulu
nasib tragis memaksa kita mengampelas asmara tua yang mengarat
tapi roman tentang Romeo dan Juliet tak bisa kita rekonstruksi kembali

sebab kau bukan penulis skenario
dan aku bukan sutradara
entah siapa peninta dongeng yang kita perankan tanpa skrip
kau dan aku telah disutradarai waktu

adegan demi adegan adalah dialog ketidakpastian
Untuk aku, kau mengingkari mega
padahal kita samasama tahu deras atau pun gerimis
kau tetap hujan yang aku kenal karena gumpalannya

adegan demi adegan adalah dialog ketidakmungkinan
buatmu, aku rela menyangkal adanya kata-kata
padahal kita juga tahu
dalam bahasa apapupn
aku tetap sebaris kalimat yang kau hafal dari susunan kata

Keberadaan kita mungkinkah memiliki wujud
sementara kita hanya mampu mencipta ketiadaannya?

sudahlah!
jangan kau deraikan yang terlanjur menggenang
biarkan asmara tua yang pernah kita ampelas kembali berkarat
anggaplah itu sebagai rumah yang pernah kita singgahi saja
saat melaju di lintasan takdir dan akhir yang masih samar!

Imbas dari tak impas

Aku menuang segelas resah
dan kau meneguk ikhlas
tanpa desah
ketika ku balas
dengan kelu kesah
pun kau tetap pasrah

Hidup cuma sementara
jangan buat diri sengsara
jika tak dibenahi segera
sukaku dukamu tiada setara

Bila hanya perih
yang ku beri
mungkinkah kasih
menjadi seri
sebab imbas
dari tak impas
hanya mampu gauli cemas
lenyap cinta menjadi lekas
walau mungkin ada bekas!

Doa Menjelang Miladku

Jika panjang umurku hingga esok,
sungguh tak sanggup kuhitung bilangannya
tidak karena takut hampir renta
sebab senja usia tak dapat dicegah

aku hanya digelisahkan dosa
dan nyatanya makin jauh pangkal lahirku
didekat ujung akhirku
sedang antara pahala dosa
tak mampu kutaksir
imbangkah bila ditimbang?

Ya Rabb...
entah kenapa aku takut pada angka
yang pasti genapi masaku?
KAU tahu sampai kapan tapi aku tak tahu...
yang kumengerti rapat jarak
dengan hidup ini kian renggang

Ya Rabb...
Bila ajal nanti terkecup
bekal yang terbawa
telahkah cukup?

Kuhantar nistaku digelaran sajadah ini
memohon belas kasihMU
usaikan kisahku kelak
dengan Khusnul Khotimah...
AMIN...

Temukanlah Selain Dia (Untukmu Yang Setia pada Kesiasiaan)

Masih juga kau tantang waktu
mengukur dalamnya cinta
lewat panjang jarak penantian

langit bahkan telah memberimu tanda
dengan mendungnya
betapa hujan pasti mengguyur di hatimu

kesetiaanmu tak akan berujung
pada sua
yang tetap saja terpasung
dalam mimpi kosong

memiliki dan dimiliki tak harus jadi kiblat untuk rasamu

Temukanlah selain dia,
barangkali ada kasih Tuhan
yang DIA titipkan hanya untukmu
pada satu jiwa yang lain...


Pulanglah, Dik!

Pulanglah dik!
tak perlu jika tak mau pikirkan kami
tapi kau kesayangan ibu
air matanya terlalu banyak untukmu
renungkanlah tentang itu
bila angkuhmu tak juga surut...

Pulanglah dik!
tak usah jika tak mau pedulikan kami
tapi kau putra tunggal
dari pemilik rahim
yang kita panggil ibu!
lebih dari 20 tahun
keringatnya diabdikan untuk hidupmu
sadarilah itu jika aroganmu tak jua melebur...

Di mana kami harus berdiri
di antara kau dan ayah
pada tiap pertengkaran
jika lapang ego tak memberi celah
tuk kami tengahi?

Seperti Ramadhan kemarin,
sesunggukkan ibu
juga terduga tak mampu menahan pergimu...
Shubuh tadi sedunya menyayat ketika sujud
tapi aku ragu bila kau merasa meski berharap!

Ayah tak membencimu...
dia hanya menyayangimu
dengan cara yang tak kau suka
dan seperti itu juga
dia mengasihi kami.

Pulanglah dik!
tanpamu, kami tak mungkin utuh...
 
 
 
 penyair gelap

0 coment:

Poskan Komentar

Berikan Pendapat atau Argumen Anda...!!!